Dimana Mampu Kita?

Beberapa waktu yang lalu sebelum Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah, sempat saya mendengar celotehan teman saya tentang kurban. “Kurban Bilang Ga Mampu, Poligami Bilang Mampu” celotehan ini menggelitik hati saya. Benar memang, sebenarnya dimana definisi “mampu” kita? Untuk sesuatu yang kita senangi maka kita akan bilang Mampu. Sedangkan untuk sesuatu yang tidak kita sukai namun bisa jadi itu baik buat kita, langsung kita jawab kalau kita Tidak Mampu, jadi sebenarnya dimana “Mampu” kita?

Kurban bagi saya adalah adalah bagaimana kemampuan kita menahan sedikit pengeluaran untuk berkurban. Begitu pula ibadah Haji. Kita sering mendengar “Naik Haji Bila Mampu”, kejar “Mampu” kita supaya kita bisa menunaikan rukun islam yang kelima itu. Saya Insyaallah sudah memulai menabung bersama istri yang entah kapan tabungan itu tercukupi. Namun kami sudah berniat buat mengumpulkan rezeki agar kami “Mampu” menunaikan rukun islam yang kelima itu.

Belum terbersit keinginan pergi ke luar negeri dengan biaya pribadi kalau kami belum “Mampu” untuk pergi ke Ka’bah. Ayo kita upgrade level “Mampu” kita, supaya level ibadah kita juga bisa naik. Yang tadinya sedekah hanya “Mampu” 2000 Rupiah, ayo kita naikkan level “Mampu” secara bertahap.

Semoga ibadah kita menjadi lebih baik baik secara kualitas dan kuantitas. Tidak usah bilang “mudah2an saya istiqomah memakai hijab”. Untuk sesuatu yang diwajibkan oleh Allah SWT tidak perlu istiqomah, karena memang itu wajib. Istiqomah untuk ibadah yang di sunnah kan itu lebih baik.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *